Orkes Keroncong Tunas Mekar

September 3, 2025

DAPOBUD-OPK: Seni,

Orkes keroncong Tunas mekar merupakan sebuah kelompok musik yang berada di Padukuhan Plumbon Lor, Mororejo, Tempel, Sleman. Orkes keroncong ini berawal dari pelatihan orkes keroncong dan seiring berjalannya waktu berkembang menjadi sebuah kelompok orkes musik keroncong yang pada umumnya tidak berbeda jauh dengan musik keroncong lain. Hingga saat ini orkes keroncong Tunas Mekar dipimpin oleh bapak Wagiranto, yang beralamat di Plumbon Lor, Mororejo Tempel, Sleman  dan  merupakan seorang pensiunan guru dan sekarang bekerja sebagai petani. Anggota kelompok ini berasal dari lingkungan sekitar Kecamatan Tempel terutama masyarakat dari Padukuhan Plumbon Lor, Plumbon Kidul, Plumbon Tengah, dan Tempel. Anggota dari kelompok ini mulai dari masyarakat berumur 20 tahunan akhir hingga umur 60 tahunan yang didominasi oleh bapak-bapak. Jumlah anggota sekitar 15 orang yang terdiri dari 7 (tujuh) orang pemain musik dan penyanyi. Nama-nama anggota kelompok ini antara lain: Wagiranto, Wahyudi, Suyani Hartono, Bagyo, Rudi Hartono, Sarijo, Hari, Supri, Nur Hadi, Karmin, Muhtarom, Edi, Retno, Evi dan Giyadi. Menurut Bapak Wagiranto siapa saja dapat ikut latihan orkes keroncong ini, walaupun bukan berasal dari lingkungan yang sama yang penting mempunyai niat untuk ikut  berlatih.

Latihan diselenggarakan di kediaman Bapak Wagiranto selaku pimpinan orkes keroncong Tunas Mekar yang dilakukan seminggu sekali, pada  Malam Rabu sebelum akhirnya latihan pindah ke Malam Minggu. Latihan dilakukan pada malam hari dan biasanya selesai sebelum pukul 12 malam. Namun, semenjak pandemi, belum ada aktivitas latihan seperti sebelumnya. Alat-alat musik yang dipakai terdiri dari cello, bass, biola, cak, cuk. Alat musik tersebut merupakan kepemilikan pribadi Bapak Wagiranto yang sebagian merupakan warisan dari kakak beliau dan saat ini beberapa alat musik tersebut masih terawat dengan baik sehingga masih bisa dipakai dalam kegiatan latihan maupun pentas. Lagu-lagu yang dibawakan merupakan lagu keroncong lawas, meskipun begitu pada saat acara ataupun latihan, kelompok ini tidak hanya memainkan lagu keroncong lawas, tetapi juga memainkan lagu seperti campursari atau pop yang dikemas dengan irama keroncong.

Sejarah

Orkes keroncong Tunas Mekar bermula dari sebuah daerah Mororejo, Tempel, Sleman, dengan anggota awal  Pringgo, Imam Suhadi, Ardani, Mansyur, Imam, Muhaji, dan Mukijo. Kelompok orkes musik ini didirikan atas inisiatif keluarga Bapak Wagiranto dan telah ada sejak dipimpin oleh kakak Bapak Wagiranto, yaitu Bapak Maksum. Kelompok orkes keroncong ini diperkirakan berdiri sekitar tahun 1960-an . Setelah Bapak Maksum tidak lagi mengurus orkes keroncong tersebut, pengelolaan diambil alih oleh adiknya, Bapak Wagiranto. Awalnya, latihan dilakukan di Rumah Pak Mansyur di Plumbon Tengah, namun setelah Pak Mansyur meninggal. Sebelum tahun 2000, orkes keroncong Tunas Mekar pindah ke rumah Pak Wagiranto. Meskipun dulu ada pelatih, tetapi karena sistemnya berbayar, lama-kelamaan orkes tidak lagi menggunakan pelatih.

Penamaan Tunas Mekar ini dibuat oleh Bapak Wagiranto dengan harapan orkes ini akan berkembang layaknya tunas yang tumbuh sampai mekar. Beliau ingin orkes keroncong ini tumbuh dan dikenal oleh publik serta mengajak para generasi muda untuk ikut bergabung dan melestarikan musik tersebut. Namun, hal tersebut sulit untuk dilakukan karena selama ini aktivitas yang dilakukan hanya latihan rutin dan mengisi beberapa acara seperti di acara nikahan, HUT, atau acara pentas lainnya. Terakhir kali pentas pada bulan Maret 2023 di acara nikahan.

Di desa Mororejo sendiri terdapat banyak kesenian budaya seperti jatilan, ketoprak, dan tentu saja keroncong. Sebagai kelompok kesenian yang berdiri cukup lama, Bapak Wagiranto sebagai pengelola orkes keroncong selama ini ingin menghidupkan kembali semangat masyarakat untuk ikut dalam pelestarian kesenian ini. Kesenian tradisional ini dapat mengalami kemunduran karena kemajuan kesenian seperti menjamurnya musik modern. Sampai sekarang, Bapak Wagiranto mengalami kesulitan untuk mengajak generasi muda di lingkungan wilayahnya ikut bergabung dengan kesenian itu karena dalam perkembangannya, orkes keroncong tersebut hanya diisi oleh para generasi tua. Oleh karena itu, perlu adanya regenerasi keanggotan agar orkes keroncong Tunas Mekar tetap bertahan dan menjadi bagian dari warisan budaya yang harus dilestarikan.

Kajian

Kelompok orkes keroncong Tunas Mekar juga memiliki peran signifikan dalam merukunkan warga sekitar. Musik keroncong, sebagai bagian dari warisan budaya yang mereka pelihara, memiliki daya tarik universal yang dapat menghubungkan orang dari berbagai latar belakang dan usia. Dalam kegiatan-kegiatan mereka, seperti latihan dan pertunjukan, anggota kelompok membawa bersama mereka warga sekitar yang memiliki minat dalam musik keroncong. Dengan berpartisipasi dalam kegiatan kelompok ini, warga sekitar memiliki kesempatan untuk berkumpul, berinteraksi, dan bersosialisasi. Mereka dapat berbagi kecintaan pada seni keroncong dan membangun hubungan yang kuat di dalam komunitas. Ini menciptakan ikatan sosial yang kuat dan merukunkan orang-orang dalam kawasan tersebut.

Lebih jauh, orkes keroncong Tunas Mekar juga sering tampil dalam acara-acara komunitas, seperti pernikahan atau event desa. Partisipasi mereka dalam acara seperti ini tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menciptakan suasana yang penuh kasih dan persatuan di antara warga. Melalui musik, mereka membawa kebahagiaan dan rasa persatuan, yang dapat menyatukan komunitas yang mungkin memiliki perbedaan dalam berbagai hal.

Sebagai penjaga warisan budaya tak benda, kelompok orkes keroncong Tunas Mekar berperan penting dalam merawat hubungan harmonis di antara warga sekitar dan membantu mengatasi perbedaan sosial, budaya, dan generasi yang mungkin ada dalam komunitas mereka.